Tampilkan postingan dengan label Botani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Botani. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Februari 2019

Botani, Manfaat, dan Kandungan Kawista

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik.



Kawista adalah tumbuhan yang termasuk suku jeruk yang berasal dari India, Sri Langka, Myanmar, dan Indo-Cina yang kemudian banyak dibudidayakan di Indonesia, terutama di Jawa dan Bali.

Nama Lokal
Inggris: Wood apple, elephant apple
Jawa: Kawista, Kinco
Bali: Kusta

Manfaat 
Daging buah yang sudah masak biasanya dicampur dengan gula kemudian dimakan seperti serbat beserta bijinya. Beberapa komoditi buah kawista diolah menjadi sirup. Kawista juga dapat digunakan untuk krim yang berasal hasil olahan daging buahnya.

Buah kawista yang sudah masak dapat dimanfaatkan sebagai obat antara lain sebagai penurun deman, bersifat tonikum, serta dapat dimanfaatkan sebagai obat sakit perut. Duri dan kulit batang kawista dijumpai dalam berbagai ramuan obat tradisional di kawasan Indo-Cina untuk obat haid yang berlebihan, gangguan liver, gigitan dan sengatan binatang, dan untuk obat mual.

Kayu kawista dapat dipakai untuk bahan bangunan rumah, tiang serta perabotan pertanian. Getah pohon kawista yang berasal dari kulit kayu juga memiliki manfaat sebagai obat.

Kandungan 
Komposisi daging buah kawista sekitar sepertiga dari keseluruhan buah. Pada buah segar mengandung pektin 3-5%. Tiap 100 g daging buah kawista memiliki kandungan: 74 g air, 8 g protein, 1,5 g lemak, serta 7,5 g karbohidrat. Tiap 100 g biji yang dapat dimakan memiliki kandungan: 4 g air, 26 g protein, 27 g lemak, dan 35 g karbohidrat. Daging buah kawista kering memiliki kandungan 15% asam sitrat dan sejumlah kecil asam, kalium, kalsium, dan zat besi. Kayu kawista memiliki warna putih kekuningan, keras, agak berat, serta memiliki serat kasar, namun urat kayunya rapat dan dapat dipoles hingga mengkilap.

Botani 
Habitus kawista berupa pohon kecil dan daun-daunnya dapat meluruh, tingginya dapat mencapai 12 meter, memiliki cabang banyak dan berbentuk ramping-ramping, terdapat duri tajam dan lurus yang panjangnya hingga 4 cm. Daun kawista majemuk dengan ukuran panjang sampai 12 cm, bersirip ganjil dengan rakhis dan tangkainya yang bersayap sempit; anak daun saling berhadapan, 2-3 pasang anak daun ujung memiliki bentuk bulat telur sungsang, panjangnya sampai 4 cm, terdapat kelenjar minyak dan jika daun diremas akan keluar sedikit aroma. Bunga jantan dan bunga sempurnanya berbilangan lima, memiliki warna putih, hijau atau jingga kemerahan, pada umumnya bergerombol dalam perbungaan yang kendur yang tereletak di ujung ranting atau di ketiak daun. Tipe buah adalah buni, dengan kulit keras, dan memiliki diameter hingga 10 cm; permukaan kulit buah bersisik, terlepas-lepas, dengan warna keputih-putihan; daging buahnya yang harum itu memiliki banyak biji yang berlendir. Bijinya berukuran panjang 5-6 mm dan berbulu, berkeping biji tebal dan berwarna hijau; perkecambahannya epigeal. Batang anakannya ramping, sedikit zig-zag; 1-4 lembar daun pertama berbentuk daun tunggal Pohon kawista memperlihatkan pola perkembangan yang sederhana, yaitu berdaun, berbunga, dan berbuah dalam tahun yang sama. Di kawasan Asia Tenggara, daun tanaman kawista umumnya gugur pada bulan Januari, kemudian pembungaan diawali pada bulan Februari atau Maret, kemudian berbuah matang pada bulan Oktober atau November. Pohon tumbuh agak lambat dan tidak akan menghasilkan buah pada saat berumur 15 tahun atau lebih.

Ekologi 
Pohon kawista dapat hidup di iklim tropik muson atau pada kondisi yang sewaktu-waktu kering. Tanaman ini dapat tumbuh sampai di ketinggian 450 mdpl.

Klasfikasi
Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Sapindales
Famili: Rutaceae
Genus: Limonia
Spesies: Limonia acidissima

Referensi: PROSEA. 1997. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara: Buah-buahan yang dapat dimakan.
Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Jenis-jenis Anggrek Endemik di Pulau Jawa

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik.

Indonesia merupakan surga tumbuhan anggrek yang dikenal oleh dunia. Anggrek merupakan komoditas utama untuk kategori tanaman florikultura. Jenis-jenis anggrek sangat melimpah keberadaannya di Indonesia. Jenis anggrek endemik indonesia pun juga memberikan daftar kekayaan biodiversitas.

Dalam postingan ini dikhususkan untuk daftar jenis anggrek endemik di Pulau Jawa yang jumlahnya lebih dari 210 spesies. Berikut adalah daftarnya yang diurutkan mulai dari alfabet A - Z:

Agrostophyllum latilobum
Anoectochilus flavescens
Appendicula congenera
Appendicula imbricata

Bogoria raciborskii
Bulbophyllum ardjunense
Bulbophyllum binnendijkii
Bulbophyllum devium
Bulbophyllum grudense
Bulbophyllum hamatipes
Bulbophyllum hydrophilum
Bulbophyllum igneum
Bulbophyllum inaequale
Bulbophyllum mucronatum
Bulbophyllum obscurum
Bulbophyllum pahudii
Bulbophyllum papillatum
Bulbophyllum peperomiifolium
Bulbophyllum petiolatum
Bulbophyllum sarcoscapum
Bulbophyllum scotiifolium
Bulbophyllum semperflorens
Bulbophyllum submarmoratum
Bulbophyllum tenellum
Bulbophyllum truncatum
Bulbophyllum xylocarpi

Calanthe abreviata
Calanthe ecallosa
Ceratochilus biglandulosus
Ceratostylis anceps
Ceratostylis anjasmoroensis
Ceratostylis backeri
Ceratostylis braccata
Ceratostylis brevibrachiata
Ceratostylis capitata
Ceratostylis crassifolia
Ceratostylis latifolia
Ceratostylis simplex
Chamaeanthus brachystachys
Cheirostylis javanica
Chiloschista javanica
Cleisostoma montanum
Coelogyne simplex
Coelogyne tumida
Corybas acutus
Corybas imperatorius
Corybas praetermissus
Corybas umbrosus
Corybas vinosus
Cryptostylis filiformis
Cryptostylis javanica

Dendrobium arcuatum
Dendrobium atavus
Dendrobium capra
Dendrobium corrugatilobum
Dendrobium jacobsoni
Dendrobium kuhlii
Dendrobium paniferum
Dendrobium prianganense
Dendrobium tenellum
Dendrochilum abbreviatum
Dendrochilum brachyotum
Dendrochilum edentulum
Dendrochilum vaginatum
Didymoplexis cornuta
Didymoplexis flexipes
Didymoplexis minor
Didymoplexis obrenisformis
Didymoplexis striata
Diplocaulobium noesae
Disperis javanica

Epigeneium triflorum
Eria bogoriense
Eria coffeicolor
Eria junghuhnii
Eria rhynchostyloides
Eria valida
Eria verruculosa
Eulophia exaltata
Eulophia javanica

Flickingeria dura
Flickingeria integrilabia
Flickingeria puncticulosa


Gastrodia abscondita
Gastrodia bambu
Gastrodia callosa
Gastrodia crispa
Goodyera glauca

Habenaria backeri
Habenaria bantamensis
Habenaria curvicalcar
Habenaria griensis
Habenaria horsfieldiana
Habenaria javanica
Habenaria loerzingii
Habenaria multipartita
Habenaria parvipetala
Habenaria salaccensis
Habenaria tosariensis
Habenaria undulata
Habenaria zolingeri
Hetaeria cristata
Hetaeria lamellata
Hetaeria micrantha
Hetaeria purpurascens
Hetaeria velutina
Hymenorchis javanica

Liparis affinis
Liparis bilobulata
Liparis bleyi
Liparis clavigera
Liparis decurrens
Liparis javanica
Liparis lauterbachii
Liparis odorata
Liparis prianganensis
Luisia taurina

Malaxis crepidium
Malaxis cuprea
Malaxis humerata
Malaxis junghuhnii
Malaxis kobi
Malaxis koordersii
Malaxis lobatocallosa
Malaxis obovata
Malaxis purpureonervosa
Malaxis ridleyi
Malaxis sagitta
Malaxis slamatensis
Malaxis soleiformis
Malaxis tenggerensis
Malaxis tjiwideiensis
Malleola forbensi
Malleola baliensis
Malleola kawakamii
Malleola ligulata
Malleola sphingoides
Microsaccus affinis
Microsaccus javensis
Microsaccus ramosus
Microtatorchis javanica
Microtatorchis papilosa
Microtatorchis steenisii
Myrmechis glabara
Myrmechis concolor

Nervilia beumeel
Nervilia campestris
Nervilia winckelii

Oberonia boerlageana
Oberonia cirrhifera
Oberonia dubia
Oberonia imbricata
Oberonia lotsyana
Oberonia microphylla
Oberonia nitidicauda
Oberonia oxystophyllum
Oberonia salakana
Oberonia similis
Oberonia subligaculifera
Oberonia tjisokanensis
Oberonia valetoniana
Oberonia zimmermanniana
Omoea micrantha



Paphiopedilum glaucophyllum
Pennilablum aurantiacum
Peristylus djampangensis
Phalaenopsis javanica
Pholidota camelostalix
Phreatia acuminate
Phreatia subsaccata
Plocoglottis latifolia
Pseudovanilla affinis
Pteroceras fraternum
Pteroceras javanica
Pteroceras zollingeri

Saccolabium pusillum
Saccolabium rantii
Saccolabium sigmoideum
Sacroglyphis comberi
Schoenorchis juncifolia
Silvorchis colorata
Stigmatodactylus javanicus

Taeniophyllum aurantiacum
Taeniophyllum bakhuizeni
Taeniophyllum biloculare
Taeniophyllum biocellatum
Taeniophyllum calyptrochilum
Taeniophyllum djampangense
Taeniophyllum doctersii
Taeniophyllum glandulosum
Taeniophyllum hirtum
Taeniophyllum mamilliferum
Taeniophyllum pantjarense
Taeniophyllum reynvaaniae
Taeniophyllum rostellatum
Taeniophyllum tenerrium
Tainia elongata
Thelasis javanica
Thelymitra javanica
Thrixspermum conigerum
Thrixspermum doctersii
Thrixspermum javanicum
Thrixspermum obtusum
Thrixspermum patens
Thrixspermum pupurascens
Thrixspermum roseum
Thrixspermum squarrosum
Trichoglottis javanica
Trichoglottis rigida
Trichoglottis tricostata

Vanda tricolor
Vrydagzynea purpura

Zeuxine tjiampeana



Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Kamis, 21 Februari 2019

Daftar Tumbuhan Endemik di Pulau Jawa

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik.

Pulau Jawa sering dikatakan memiliki tingkat endemisitas yang rendah dibandingkan dengan pulau-pulau besar lainnya di Indonesia. Hal tersebut tidak lepas dari sejarah alam di Pulau Jawa yang penuh dengan gunung api aktif sehingga tidak memberikan waktu yang cukup untuk memunculkan endemisme tumbuhan.

Meskipun demikian, flora khas Pulau Jawa setidaknya memberikan banyak daftar tumbuhan endemik yang ada di Indonesia. Tumbuhan / tanaman endemik di Pulau Jawa setidaknya lebih dari 325 spesies mulai dari tumbuhan dikotil, monokotil dan termasuk juga anggrek.

Berikut adalah beberapa daftar tumbuhan (flora) endemik di Pulau Jawa, mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur:

Baca juga: Jenis-jenis Anggrek Endemik di Pulau Jawa


Tumbuhan Dikotil
  1. Achudemia javanica
  2. Adinandra javanica 
  3. Alchemilla villosa
  4. Althaemenes javanica
  5. Anaphalis maxima
  6. Apoballis javanica
  7. Aralia javanica
  8. Blepharis exigua
  9. Burmannia steenisii
  10. Canarium kipella
  11. Casearia flavovirens
  12. Cassine koordersii
  13. Clethra javanica
  14. Cyrtandra elbertii
  15. Dehaasia acuminata
  16. Dehaasia chatacea
  17. Dendrophthoe praelonga
  18. Derris danauensis
  19. Diplycosia pilosa
  20. Dipterocarpus littoralis
  21. Erycibe macrophylla
  22. Erythrina euodiphylla
  23. Eugenia amplifora
  24. Eugenia discophora
  25. Gaultheria solitaria
  26. Heliciopsis lanceolata
  27. Heritiera percoriacea
  28. Lasianthus tomentosum
  29. Lepeostegeres gemmiflorus
  30. Limnocitrus littoralis
  31. Lithocarpus crassinerivis
  32. Lithocarpus indutus
  33. Lithocarpus kostermansii
  34. Lithocarpus platycarpus
  35. Macropanax concinnus
  36. Mangifera lalijiwa
  37. Melastoma zollingeri
  38. Mitrasacme bogoriensis
  39. Mitrasacme saxatillis
  40. Myristica teijsmanii
  41. Notaphoboe javanica
  42. Plectranthus petraeus
  43. Plectranthus steenisii
  44. Prunus adenopa
  45. Rhododendron album
  46. Rhododendron loerzingii
  47. Rhododendron wilhelminae
  48. Rorippa backeri
  49. Saurauia bogoriensis
  50. Saurauia bracteosa
  51. Saurauia cauliflora
  52. Saurauia lanceolata
  53. Saurauia microphylla
  54. Scheffera reiniano
  55. Scurrula didyma
  56. Solanum alpinum
  57. Solanum anacamptocarpum
  58. Solanum rhinozerothis
  59. Solanum viscidissimum
  60. Stylidium inconspicuum
  61. Styphelia javanica
  62. Symplocos costata
  63. Symplocos junghuhnii
  64. Terminalia kangeanensis
  65. Vantica bantamensis
  66. Vernonia zollingerianoides
  67. Viola javanica
  68. Zanthoxylum penjaluensis


Tumbuhan Monokotil
  1. Amomum blumeanum
  2. Amomum gracile
  3. Amomum hochrentineri
  4. Amomum pseudofoetens
  5. Bambusa cornuta
  6. Calamus adsperrimus
  7. Calamus burckianus
  8. Calamus heteroideus
  9. Calamus melanoloma
  10. Ceratolobus glaucescens
  11. Daemonorops rubra
  12. Discorea blumei
  13. Discorea madiunensis
  14. Discorea platycarpa
  15. Discorea vilis
  16. Etlingera foetens
  17. Etlingera hemisphaerica
  18. Etlingera heynianum
  19. Etlingera parvum
  20. Etlingera solaris
  21. Etlingera walang
  22. Fimbristylis subdura
  23. Gigantochloa manggong
  24. Hedychium roxburghii
  25. Hornstedtia horsfieldii
  26. Hornstedtia mollis
  27. Hornstedtia paludosa
  28. Hornstedtia rubra
  29. Hypolytrum humile
  30. Korthalsia junghuhnii
  31. Licuala gracilis
  32. Nastus elegantissimus
  33. Pinanga javana
  34. Plectocomia longistima
  35. Schizostachyum biflorum
  36. Zingiber gramineum
  37. Zingiber inflexum
  38. Zingiber oderiferum
Ilustrasi Tumbuhan Pinanga javana


Referensi

  • Backer . 1963. Flora of Java.
  • Steenis. 1972. Flora Pegunungan Jawa.
  • Tony Whitten dkk. 1999. Ekologi Jawa dan Bali.



Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.